Bagi warga Kotawaringin Barat, tentu tidak asing lagi dengan nama Sungai Arut. Karena sungai itu adalah sungai utama yang mengalir membelah Kota. Menyusuri Sungai Arut dan menikmati sunset sungguh nikmat yang tiada tara. Dengan menggunakan kelotok bersama keluarga kita bisa menyusuri Sungai Arut dan melihat kehidupan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.

Waktu terbaik untuk menikmati susur sungai adalah sore hari, dengan durasi 1 hingga 3 jam. Ini adalah salah satu rekomendasi terbaik untuk menikmati liburan bersama keluarga di Kotawaringin Barat.

Pawai Nasi Adab merupakan kegiatan rutin tahunan yang selalu digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Kotawaringin Barat. Pawai tersebut diikuti peserta satuan organisasi perangkat daerah setempat, pemerintah desa dan kabupaten, BUMN dan swasta serta pelajar tingkat dasar dan mahasiswa.

Pawai budaya Nasi Adab juga sebagai media pembelajaran untuk masyarakat terhadap budaya lokal. sebagai hiburan rakyat dan juga sebagai media untuk menanamkan kesadaran kepada masyarakat, khususnya kepada generasi muda untuk menjaga dan melestarikan budaya nasional maupun lokal,

Nasi tumpeng berwarna kuning dan kembang serai, yakni sebuah kembang yang terbuat dari batang lidi yang dibalut kertas minyak, menjadi ornament wajib yang harus dibawa oleh setiap rombongan peserta

Ritual adat Babarasih Banua rutin dilaksanakan masyarakat di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).Tradisi ini merupakan wujud sikap berserah diri pada Tuhan, karena apapun yang terjadi di dunia ini sepenuhnya atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

Ritual dipimpin oleh Demang dan tokoh adat yang diawali dengan menyusuri Sungai Kumai dengan membawa 7 buah balai (miniatur istana) ancak. Ancak yaitu tempat meletakkan 40 macam kue tradisional serta miniatur kapal yang diletakkan ayam hitam. Nantinya miniatur kapal ini akan dilepaskan ke muara sungai. Selain membawa membawa balai dan ancak, dalam prosesi ini juga dibawa seekor kambing warna hitam untuk dikorbankan.

Dalam perjalanan menuju lokasi tempat meletakkan balai dan ancak, beberapa pemusik dan penari di atas kapal melantunkan pantun diiringi musik dan menari tradisional yang biasanya disebut Tirik.